POTENSI INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL

Kesehatan menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam pengembangan produk pangan dewasa ini. Sekarang ini, hampir semua jenis media selalu menyajikan info dan rubric kesehatan. Gaya hidup masyarakat menengah ke atas juga mengalami perubahan mengarah pada pola hidup sehat. Hal inI terlihat dengan makin banyaknya lomba-lomba olahraga, menjamurnya tempat gym, serta acara car free day yang banyak di isi dengan acara olahraga.
Hal ini didukung dengan makin meningkatnya prevalensi penyakit degenerative misalnya obesitas, diabetes, dan jatung koroner. WHO menyebutkan laju obesitas negara Asia paling tinggi diantara Negara lain. Diantara Negara-negara ASEAN, Malaysia menduduki posisi tertinggi dengan peningkatan obesitas dan overweight sebanyak 43%, diikuti Thailand 40%, dan Singapura 33%, Indonesia sendiri berada diposisi 7 dengan persentasi 16%. Hal ini makin membuat masyarakat lebih hati-hati dalam konsumsi makanan.
Tren ini tentu saja memengaruhi perkembangan industry pangan Indonesia. Inovasi baru mau tidak mau harus memperhatikan aspirasi konsumen, sehingga kemudian bermunculan produk baru yang menawarkan manfaat kesehatan, misalnya susu tinggi kalsium, gula rendah kalori, serta lainnya.
Tren pangan fungsional yang paling diminati mengarah pada weight management, kesehatan tulang atau energy. Saat ini inovasi terbaru mengarah kepada a healthier option dari bentuk produk yang sudah ada. Misalnya, akhir – akhir ini makin berkembang produk produk bebas/rendah gula atau bebas/rendah lemak. Hal ini sejalan juga dengan kepedulian akan perlunya membatasi asupan gula, garam, dan lemak.
Selain itu, akhir – akhir ini banyak produk baru yang diluncurkan untuk ibu hamil dan menyusui. Rupanya makin banyak young adult masuk dalam middle class customer. Saat menantikan buah hati, mereka memperhatikan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi keduanya. Produk untuk kecantikan juga diminati oleh kaum wanita, seperti pangan dengan ingredient kolagen, kaya vitamin E, dan mengandung superfruit.
Tren produk dengan klaim kesehatan juga menjadi peluang tersendiri bagi pangan lokal khas Indonesia, misalnya tempe. Berbagai penelitian menunjukan keistimewaan produk tersebut termasuk dalam memerangi resiko diare pada anak. Selain itu rempah rempah indonesi terbukti juga bermanfaat untuk kesehatan. Misalnya jahe. Pangan ini mampu menghangatkan badan, juga mengatasi mual dan kembung. Kedepannya, bahan baku lokal tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Diantaranya dengan mengolahnya sebagai ingredient produk pangan fungsional sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Pada pembuatan pangan fungsional faktor-faktor utama yang harus diperhatikan diantaranya manfaat bagi kesehatan, mempunyai organoleptik yang disukai konsumen dengan formulasi yang tepat, serta harga. Umumnya, pangan fungsional yang manfaatnya nyata pada kesehatan mempunyai harga yang lebih tinggi dibanding pangan sejenisnya. Contohnya mie yang ditunjukan untuk mengurangi berat badan, harganya menjadi beberapa kali lipat dari harga mie biasanya.
Namun demikian, perkembangan pangan fungsional dapat berjalan baik jika didukung dengan regulasi/kebijakan pemerintah. Pangan fungsional sulit berkembang apabila tidak disertai dengan klaim. Tanpa klaim yang jelas konsumen tidak akan tahu kelebihan dari produk tersebut. Regulator dapat berperan untuk meningkatkan perkembangan pangan fungsional di Indonesia dengan menyediakan positif list klaim kesehatan maupun pencegahan penyakit untuk berbagai produk yang memang sudah terbukti baik di negara Indonesia maupun negara lain. Indonesia juga terdapat pada klaim – klaim yang sudah diperbolehkan di negara lain misalnya Uni Eropa, Amerika serikat, dan jepang.
Sumber Foodriview

Powered by WordPress | Designed by: photography charlottesville va | Thanks to ppc software, penny auction and larry goins